<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener("load", function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <iframe src="http://www.blogger.com/navbar.g?targetBlogID=17478309&amp;blogName=Jhon+Afri%27s+Daily+Life&amp;publishMode=PUBLISH_MODE_BLOGSPOT&amp;navbarType=BLUE&amp;layoutType=CLASSIC&amp;searchRoot=http%3A%2F%2Fjhon-afri.blogspot.com%2Fsearch&amp;blogLocale=en_US&amp;homepageUrl=http%3A%2F%2Fjhon-afri.blogspot.com%2F" marginwidth="0" marginheight="0" scrolling="no" frameborder="0" height="30px" width="100%" id="navbar-iframe" allowtransparency="true" title="Blogger Navigation and Search"></iframe> <div></div>
Saturday, June 07, 2008

Hati yang Indah

Aku pernah baca kisah seperti di bawah ini. Tapi aku lupa dimana.
Ceritanya kira kira begini:

Alkisah, dahulu manusia bisa melihat hati sesamanya. Maksudnya disini bener - bener hati (liver). Jadi kita bisa melihat langsung hati(liver) orang, gitu loh.
Ada seorang pemuda yang memiliki hati yang indah. Bentuknya sangat indah sekali.
Dia memamerkan hatinya kepada orang banyak dan bilang, "inilah hati yang terindah."
Semua orang memandang dan mengagumi bentuk hatinya yang indah itu.
Orang - orang pun setuju kalau pemuda itu benar benar memiliki hati yang sangat indah.

Tiba - tiba muncullah seorang kakek - kakek renta. Dia berkata kepada pemuda itu,
"Anak muda, hatimu memang sangat indah, tetapi hatimu tidak lebih indah dari hatiku ini."
Semua orang berpaling ke arah suara itu. Mereka melihat hati sang kakek dan terkejut.
Hatinya penuh luka di mana - mana. Juga ada bagian yang tampaknya terkoyak dan ditambal dengan hati yang lain.
Semua orang terkejut dan heran. Bagaimana mungkin kakek tersebut mengatakan hatinya lebih indah sementara terdapat banyak sekali luka - luka.
Si Pemuda berkata, "Bagaimana mungkin hatimu yang penuh luka itu lebih indah dari hatiku?"
Sang kakek berkata, "Hatimu memang indah. Tapi aku memberi hatiku buat orang orang lain. Kadang mereka mengambil sebagian dari hatiku. Kadang mereka melukai. Tapi beberapa ada yang memberikan hatinya juga untuk menambal hatiku. Walaupun bentuknya tidak pas, tapi aku bahagia.

Yah, whatever-lah kebenaran cerita di atas (Bisa dibilang 100% fiksi)
Tapi setidaknya cerita itu cukup membuatku berpikir sedikit tentang hati manusia.

Hati manusia adalah organ yang penting. Karena orang yang nggak punya hati sering dibilang binatang.Dari hatilah terpancar seluruh ekspresi manusia. Hatilah yang menjadi sumber kehidupan manusia. Alkitab juga mengatakan banyak hal tentang hati manusia. Di Ibrani 10:16 juga dikatakan Tuhan menaruh Hukum-Nya di hati manusia

Tapi hati juga adalah organ yang paling rentan disakiti. Tidak bisa disembuhkan dengan obat. Dan orang lain akan sulit mendeteksi hati yang terluka. Hampir tidak ada yang tahu, kecuali sang empunya hati itu sendiri dan Tuhan tentunya.

Lalu aku bercermin pada hidupku sendiri. Aku melihat peristiwa kemarin yang sangat menyakitkanku.
Saat orang yang kukasihi meninggalkanku
Saat orang yang kukasihi memilih orang untuk menjadi teman dalam sisa perjalanan hidupnya dan orang itu bukan aku.
Saat orang yang kukasihi memilih orang untuk mengucapkan ikrar janji setia di hadapan Tuhan dan orang itu bukan aku.
Saat orang yang kukasihi memutuskan untuk menikah dengan orang lain dan bukan denganku.
Aku benar - bener sakit hati.
Aku merasa hatiku dicabik - cabik.
Tidak ada yang lebih menyakitkan hati daripada disakiti oleh orang yang kita kasihi


Kita sakit hati karena dikecewakan.
Kita sakit hati karena perkataan yang menusuk.
Kita bisa sakit hati karena banyak hal.
Tapi gak ada yang lebih menyakitkan daripada disakiti oleh orang yang kita kasihi.

Tapi mungkin seperti cerita di atas.
Hati kita yang terluka, tercabik - cabik, terkoyak - koyak atau apalah istilahnya yang lebih hiperbolis.
Kita sedang dalam proses untuk menjadikan hati kita lebih indah.
Hati yang terluka akan mengajari kita betapa berharganya seseorang ketika memberi hatinya kepada kita.
Orang seperti pemuda tadi, yang memiliki hati yang utuh, mungkin gak akan bisa menghargai ketika orang lain menawarkan hatinya.
Tapi orang yang terluka hatinya akan dengan luar biasa menghargai ketika ada orang lain yang menawarkan hatinya. Mungkin gak pas - pas banget. Mungkin gak bisa menutupi seluruh luka hatinya. Dan mungkin itu akan mengajarinya suatu saat untuk memberi hatinya juga pada orang lain yang terluka.
Dari hati seperti itulah muncul kekuatan, kesabaran, kelemahlembutan, pengampunan, dan damai sejahtera. Dari hati seperti itulah muncul kesadaran diri dan karakter yang tangguh. Dan karena itulah disebut hati yang indah
Thursday, May 15, 2008

It is Well, it is well with My Soul...

Ya sudahlah...
semua udah terjadi...
Semuanya baik - baik saja
Semuanya baik - baik saja dengan jiwaku...

It is well, it is well with my soul

Akhirnya setelah dua tahun lamanya hubungan ini harus berakhir.
Akhirnya dia menemukan sesorang yang lebih baik dariku
Dan memutuskan menikah dengan pria itu.
Dan semuanya terjadi begitu cepat.

Rasa sakit
Rasa sedih
Rasa kecewa
rasa marah
semuanya jadi satu.

Di hari dia mengatakan itu.
aku gak bisa tidur. Benar - benar tidak tidur malam itu.
gak bisa makan. Ulu hatiku rasanya seperti dihujam palu. sakit. Menohok

It is well, it is well with my soul

Hancur sudah semua impian dan angan - angan
Tapi sudahlah.
Tuhan punya rencana lebih baik.
Aku serahkan semuanya kepada-Nya


It is well, it is well with my soul

Refrain lagu itu entah kenapa tiba - tiba bergema lagi dalam jiwaku.
Aku ingat kembali lagu ini. Merasakan hal yang sama yang dialami oleh Horatio G. Spafford. Well, sebenarnya apa yang dialaminya jauh lebih parah dari yang kualami.

Horatio G. Spafford menulis lagu ini setelah 2 kejadian traumatis dalam hidupnya.Yang pertama adalah kebakaran hebat di Chicago bulan Oktober 1871 yang menghancurkannya secara finasial. (Dia adalah pengusaha yang cukup kaya). Kejadian berikutnya adalah meninggalnya keempat putrinya dalam sebuah tabrakan kapal di Atlantik. Hanya istrinya seorang yang selamat. Ketika Spafford melintasi perairan dimana keempat putrinya tenggelam, Roh Kudus menginspirasikan kata kata ini kepadanya:

It is well, it is well with my soul

Aku percaya ini pasti bukan hal yang mudah buat Spafford.
Aku mencoba mengimani kata - kata ini. Tidak masalah seberapa berat penderitaan kita. Kita tahu Kristus mampu menolong dan memberikan kekuatan sehingga kita tetap bisa berkata:

It is well, it is well with my soul

Aku sangat mencintai dia.
Aku sangat menyayangi dia
Namun Tuhan punya rencana lain
dan aku serahkan semuanya kepada-Nya.


It is well with my soul

When peace, like a river, attendeth my way,
When sorrows like sea billows roll;
Whatever my lot, Thou has taught me to say,
It is well, it is well, with my soul.

Refrain

It is well, with my soul,
It is well, with my soul,
It is well, it is well, with my soul.

Though Satan should buffet, though trials should come,
Let this blest assurance control,
That Christ has regarded my helpless estate,
And hath shed His own blood for my soul.

Refrain

My sin, oh, the bliss of this glorious thought!
My sin, not in part but the whole,
Is nailed to the cross, and I bear it no more,
Praise the Lord, praise the Lord, O my soul!

Refrain

For me, be it Christ, be it Christ hence to live:
If Jordan above me shall roll,
No pang shall be mine, for in death as in life
Thou wilt whisper Thy peace to my soul.

Refrain

But, Lord, ‘tis for Thee, for Thy coming we wait,
The sky, not the grave, is our goal;
Oh trump of the angel! Oh voice of the Lord!
Blessèd hope, blessèd rest of my soul!

Refrain

And Lord, haste the day when my faith shall be sight,
The clouds be rolled back as a scroll;
The trump shall resound, and the Lord shall descend,
Even so, it is well with my soul.

Refrain




Friday, February 23, 2007

Pesawat Nyeberang



Posted by Picasa