Hati yang Indah
Aku pernah baca kisah seperti di bawah ini. Tapi aku lupa dimana.
Ceritanya kira kira begini:
Alkisah, dahulu manusia bisa melihat hati sesamanya. Maksudnya disini bener - bener hati (liver). Jadi kita bisa melihat langsung hati(liver) orang, gitu loh.
Ada seorang pemuda yang memiliki hati yang indah. Bentuknya sangat indah sekali.
Dia memamerkan hatinya kepada orang banyak dan bilang, "inilah hati yang terindah."
Semua orang memandang dan mengagumi bentuk hatinya yang indah itu.
Orang - orang pun setuju kalau pemuda itu benar benar memiliki hati yang sangat indah.
Tiba - tiba muncullah seorang kakek - kakek renta. Dia berkata kepada pemuda itu,
"Anak muda, hatimu memang sangat indah, tetapi hatimu tidak lebih indah dari hatiku ini."
Semua orang berpaling ke arah suara itu. Mereka melihat hati sang kakek dan terkejut.
Hatinya penuh luka di mana - mana. Juga ada bagian yang tampaknya terkoyak dan ditambal dengan hati yang lain.
Semua orang terkejut dan heran. Bagaimana mungkin kakek tersebut mengatakan hatinya lebih indah sementara terdapat banyak sekali luka - luka.
Si Pemuda berkata, "Bagaimana mungkin hatimu yang penuh luka itu lebih indah dari hatiku?"
Sang kakek berkata, "Hatimu memang indah. Tapi aku memberi hatiku buat orang orang lain. Kadang mereka mengambil sebagian dari hatiku. Kadang mereka melukai. Tapi beberapa ada yang memberikan hatinya juga untuk menambal hatiku. Walaupun bentuknya tidak pas, tapi aku bahagia.
Yah, whatever-lah kebenaran cerita di atas (Bisa dibilang 100% fiksi)
Tapi setidaknya cerita itu cukup membuatku berpikir sedikit tentang hati manusia.
Hati manusia adalah organ yang penting. Karena orang yang nggak punya hati sering dibilang binatang.Dari hatilah terpancar seluruh ekspresi manusia. Hatilah yang menjadi sumber kehidupan manusia. Alkitab juga mengatakan banyak hal tentang hati manusia. Di Ibrani 10:16 juga dikatakan Tuhan menaruh Hukum-Nya di hati manusia
Tapi hati juga adalah organ yang paling rentan disakiti. Tidak bisa disembuhkan dengan obat. Dan orang lain akan sulit mendeteksi hati yang terluka. Hampir tidak ada yang tahu, kecuali sang empunya hati itu sendiri dan Tuhan tentunya.
Lalu aku bercermin pada hidupku sendiri. Aku melihat peristiwa kemarin yang sangat menyakitkanku.
Saat orang yang kukasihi meninggalkanku
Saat orang yang kukasihi memilih orang untuk menjadi teman dalam sisa perjalanan hidupnya dan orang itu bukan aku.
Saat orang yang kukasihi memilih orang untuk mengucapkan ikrar janji setia di hadapan Tuhan dan orang itu bukan aku.
Saat orang yang kukasihi memutuskan untuk menikah dengan orang lain dan bukan denganku.
Aku benar - bener sakit hati.
Aku merasa hatiku dicabik - cabik.
Kita sakit hati karena dikecewakan.
Kita sakit hati karena perkataan yang menusuk.
Kita bisa sakit hati karena banyak hal.
Tapi gak ada yang lebih menyakitkan daripada disakiti oleh orang yang kita kasihi.
Tapi mungkin seperti cerita di atas.
Hati kita yang terluka, tercabik - cabik, terkoyak - koyak atau apalah istilahnya yang lebih hiperbolis.
Kita sedang dalam proses untuk menjadikan hati kita lebih indah.
Hati yang terluka akan mengajari kita betapa berharganya seseorang ketika memberi hatinya kepada kita.
Orang seperti pemuda tadi, yang memiliki hati yang utuh, mungkin gak akan bisa menghargai ketika orang lain menawarkan hatinya.
Tapi orang yang terluka hatinya akan dengan luar biasa menghargai ketika ada orang lain yang menawarkan hatinya. Mungkin gak pas - pas banget. Mungkin gak bisa menutupi seluruh luka hatinya. Dan mungkin itu akan mengajarinya suatu saat untuk memberi hatinya juga pada orang lain yang terluka.
Dari hati seperti itulah muncul kekuatan, kesabaran, kelemahlembutan, pengampunan, dan damai sejahtera. Dari hati seperti itulah muncul kesadaran diri dan karakter yang tangguh. Dan karena itulah disebut hati yang indah
Ceritanya kira kira begini:
Alkisah, dahulu manusia bisa melihat hati sesamanya. Maksudnya disini bener - bener hati (liver). Jadi kita bisa melihat langsung hati(liver) orang, gitu loh.
Ada seorang pemuda yang memiliki hati yang indah. Bentuknya sangat indah sekali.
Dia memamerkan hatinya kepada orang banyak dan bilang, "inilah hati yang terindah."
Semua orang memandang dan mengagumi bentuk hatinya yang indah itu.
Orang - orang pun setuju kalau pemuda itu benar benar memiliki hati yang sangat indah.
Tiba - tiba muncullah seorang kakek - kakek renta. Dia berkata kepada pemuda itu,
"Anak muda, hatimu memang sangat indah, tetapi hatimu tidak lebih indah dari hatiku ini."
Semua orang berpaling ke arah suara itu. Mereka melihat hati sang kakek dan terkejut.
Hatinya penuh luka di mana - mana. Juga ada bagian yang tampaknya terkoyak dan ditambal dengan hati yang lain.
Semua orang terkejut dan heran. Bagaimana mungkin kakek tersebut mengatakan hatinya lebih indah sementara terdapat banyak sekali luka - luka.
Si Pemuda berkata, "Bagaimana mungkin hatimu yang penuh luka itu lebih indah dari hatiku?"
Sang kakek berkata, "Hatimu memang indah. Tapi aku memberi hatiku buat orang orang lain. Kadang mereka mengambil sebagian dari hatiku. Kadang mereka melukai. Tapi beberapa ada yang memberikan hatinya juga untuk menambal hatiku. Walaupun bentuknya tidak pas, tapi aku bahagia.
Yah, whatever-lah kebenaran cerita di atas (Bisa dibilang 100% fiksi)
Tapi setidaknya cerita itu cukup membuatku berpikir sedikit tentang hati manusia.
Hati manusia adalah organ yang penting. Karena orang yang nggak punya hati sering dibilang binatang.Dari hatilah terpancar seluruh ekspresi manusia. Hatilah yang menjadi sumber kehidupan manusia. Alkitab juga mengatakan banyak hal tentang hati manusia. Di Ibrani 10:16 juga dikatakan Tuhan menaruh Hukum-Nya di hati manusia
Tapi hati juga adalah organ yang paling rentan disakiti. Tidak bisa disembuhkan dengan obat. Dan orang lain akan sulit mendeteksi hati yang terluka. Hampir tidak ada yang tahu, kecuali sang empunya hati itu sendiri dan Tuhan tentunya.
Lalu aku bercermin pada hidupku sendiri. Aku melihat peristiwa kemarin yang sangat menyakitkanku.
Saat orang yang kukasihi meninggalkanku
Saat orang yang kukasihi memilih orang untuk menjadi teman dalam sisa perjalanan hidupnya dan orang itu bukan aku.
Saat orang yang kukasihi memilih orang untuk mengucapkan ikrar janji setia di hadapan Tuhan dan orang itu bukan aku.
Saat orang yang kukasihi memutuskan untuk menikah dengan orang lain dan bukan denganku.
Aku benar - bener sakit hati.
Aku merasa hatiku dicabik - cabik.
Tidak ada yang lebih menyakitkan hati daripada disakiti oleh orang yang kita kasihi
Kita sakit hati karena dikecewakan.
Kita sakit hati karena perkataan yang menusuk.
Kita bisa sakit hati karena banyak hal.
Tapi gak ada yang lebih menyakitkan daripada disakiti oleh orang yang kita kasihi.
Tapi mungkin seperti cerita di atas.
Hati kita yang terluka, tercabik - cabik, terkoyak - koyak atau apalah istilahnya yang lebih hiperbolis.
Kita sedang dalam proses untuk menjadikan hati kita lebih indah.
Hati yang terluka akan mengajari kita betapa berharganya seseorang ketika memberi hatinya kepada kita.
Orang seperti pemuda tadi, yang memiliki hati yang utuh, mungkin gak akan bisa menghargai ketika orang lain menawarkan hatinya.
Tapi orang yang terluka hatinya akan dengan luar biasa menghargai ketika ada orang lain yang menawarkan hatinya. Mungkin gak pas - pas banget. Mungkin gak bisa menutupi seluruh luka hatinya. Dan mungkin itu akan mengajarinya suatu saat untuk memberi hatinya juga pada orang lain yang terluka.
Dari hati seperti itulah muncul kekuatan, kesabaran, kelemahlembutan, pengampunan, dan damai sejahtera. Dari hati seperti itulah muncul kesadaran diri dan karakter yang tangguh. Dan karena itulah disebut hati yang indah





